Caleg Stress Pasca Pemilu

Pemilu legislatif sudah dilakukan pada tanggal 9 April kemaren. Pada pesta rakyat lima tahunan ini, ada yang berbeda. Yang cukup jelas adalah ukuran kertas suara dan waktu yang dibutuhkan untuk menghitung suara warga sekitar. Dulu mungkin sebelum ashar proses penghitungan sudah selesai. Tapi yang sekarang.. Wuih… bahkan ada yang sampe tengah malem baru beres. Kalo kata suara hati anggota KPPS mah kapok meureun. 200ribu tidak sesuai dengan tanggung jawab dan jerih payah

Selang beberapa hari setelah 9 April. Di berita, baik itu koran maupun televisi mulai memberitakan bertebarannya caleg stress. Di Pikiran Rakyat hari Sabtu (atau Jumat ya? Lupa euy) diberitakan salah satu caleg di Garut dengan sengaja memblokir jalan di lingkungan rumahnya gara-gara tidak memperoleh dukungan suara sama sekali di TPS dekat rumahnya. Lalu di TV, hari minggu kemaren seorang caleg dari daerah Indonesia bagian timur. Di Ambon kalo ngga salah, ada seorang caleg yang bercita-cita menjadi anggota dewan yang ‘terhormat’ malah menginjak-injak ‘kehormatan’-nya sendiri dengan meminta kembali sejumlah karpet yang telah dihibahkan saat kampanye dulu ke sebuah majelis ta’lim.

Stress

Stress

Itu hanya salah dua dari beberapa contoh-contoh dampak pemilu langsung. Di tempat lain bahkan ada anggota tim sukses yang nekat mengakhiri hidupnya gara-gara caleg yang dia bela mati-matian gagal mendapatkan suara. Serangan jantung mendatangi seorang caleg di Bali setelah mendengar bahwa dia hanya memperoleh sedikit suara.

Pihak lain banyak yang berpendapat bahwa Pemilu kali ini amburadul. Memang tidak dipungkiri karena hal itu bisa dilihat dari beberapa hal. Mulai dari masih banyaknya masyarakat yang tidak mendapatkan hak untuk mencontreng. Lalu dugaan kecurangan saat penghitungan. Tertukarnya surat suara dengan daerah lain. Banyaknya surat suara yang rusak dan sejumlah masalah lainnya.

Banyak warga yang bilang, “Ah, pemilu sekarang mah lieur, ribet.”
Ada juga yang bilang, “Calegnya terlalu banyak. Tidak kenal pula.”

Mungkin dari opini masyarakat yang ada sekarang pasti 95% berpendapat seperti itu. Mungkin untuk kedepannya pendapata itu perlu mendapat perhatian yang amat sangat dari KPU. Saya pikir, setiap caleg yang mendaftar selain harus lolos seleksi dokumen, juga harus layak secara FISMEN (Finansial, fISik dan MENtal :D ). Paling tidak itu bisa mereduksi jumlah caleg sehingga bisa diperoleh caleg yang memang layak untuk menjadi wakil rakyat.

Hal itu perlu dilakukan untuk mencegah terjadi tindakan konyol yang mungkin saja dilakukan oleh caleg yang stress karena kalah. Paling tidak, mereka yang mapan secara FISMEN bisa melewati tahapan kritis saat pemilu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

Satu lagi saran saya bisa dipertimbangkan, mungkin ada baiknya untuk mengurangi tunjangan dan gaji para wakil rakyat itu sehingga bisa sedikit mengurangi minat masyarakat untuk menjadi caleg. Paling tidak, mereka yang mencalonkan adalah mereka yang benar-benar ingin menjadi wakil rakyat yang membela rakyatnya.

Share to:
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • Live
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • Diigo
  • MySpace
  • blogmarks
  • email
  • FriendFeed
  • RSS
  • Tumblr


Related posts:
  1. Pemilu Pertama
Posted in Harian by fajargumelar at April 12th, 2009.
Tags: , ,

3 Responses to “Caleg Stress Pasca Pemilu”

  1. Bener juga tuh!! yang di Bali kan sampe meninggal. Trus ada juga caleg yang diam-diam mengangkut kembali TV yang saat kampanye dipasang di pangkalan ojeg.. hihihi, ga malu gitu yah?!

  2. admin says:

    makanya kalo punya duit jangan jadi caleg. kalo ngga punya juga jangan.. apalagi pinjem sana sini buat modal kampanye..

    mendingan juga buat modal usaha.

  3. hihihi.. iyayah repot kalo uda sampe gila. mending juga buat nikah yah,,, :p // hahah.. apa itu maksudnya?? :D

Leave a Reply