Masihkah kau Mencintaiku ?? -perdana

Semalam Rabu malam minggu lalu sekitar pukul 22.00, saat saya sedang rehat dari kesibukan menulis skripsi, sembari makan puding, saya menonton sebuah acara tv di RCTI. Acara perdana “Masihkah kau Mencintaiku?” sedikit penasaran dalam hati, saya pun melanjutkan menonton acara tersebut.

Acara yang dipandu Helmy Yahya dan Dian Nitami ini diawali dengan diangkatnya sebuah kisah dari sepasang suami istri yang sudah menikah selama 11 tahun dan dikaruniani seorang putri. Sang istri ingin berpisah dari suaminya karena alasan selama menikah (11 tahun), suami TIDAK pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada sang istri, pernah juga karena alasan sibuk kerja hingga saat istri melahirkan pun, suami tidak turut mendampingi. Pokonya karena suami ini dinilai cuek dan tidak perhatian!

Selama acara, keluarga dari kedua belah pihak pun turut hadir, yaitu bapak dan ibu ditemani seorang sanak saudara. Terkadang, anggota keluarga tersebut ikut bicara sehingga dapat memperkeruh situasi, sembari meregang otot mereka saling membela anak masing-masing. Dihadirkan pula sebagai penengah dan pemberi saran, seorang psikolog dan seorang penasehat lainnya, yaitu wanita yang sudah 40 tahun mengarungi hidup rumah tangga.

Acara ini mengedepankan terjalinnya dialog antara suami istri dan berusaha mengungkapkan hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya melalui pencocokan dari pertanyaan yang dilemparkan pemandu acara.

Pertanyaan pertama dilontarkan, “Apakah suami tahu ukuran bra sang istri?”
Jawaban sang istri “Tidak, suami tidak perhatian dan pasti dia lebih tahu ukuran bra sekretarisnya..”
Jawaban suami “Tahu” sembari membisikan ukuran tersebut pada Dian Nitami.
Dan ternyata suami benar-benar tahu ukuran bra sang istri.

Selanjutnya, “Ingatkah suami hari kelahiran putrinya?”
Menurut istri, “Tidak,dia (tetap) tidak perhatian. Tidak mungkin ingat hari lahir putri kami, yaitu hari minggu.”
Menurut suami, “Tahu, yaitu hari Jum’at”
Dan ternyata hari lahir putri mereka yang sesungguhnya adalah hari Sabtu.

Berikutnya, “Apakah istri emosional?”
Istri, “Iya, saya mengaku saya emosional..”
Suami, “Iya, istri saya emosional..”

Lalu, ada lagi pertanyaan “Apakah suami menyesal pernah menikahi sang istri?”
Jawaban istri, “Menyesal. Dia tidak perhatian dan sudah tidak peduli. Pasti dia menyesal menikahi saya.”
Jawaban suami, “Tidak menyesal, saya tidak pernah menyesal pernah menikah dengannya..”
ahuhu.. sang istri pun menangis.. Anggapan dia yang selalu negatif kepada suami tidak terbukti. Suami pun menghampiri sang istri, tapi tidak melakukan apa-apa. Bahkan berkata sesuatu pun tidak. Hanya berdiri di depan sang istri. (Berharap di peluk kali ya?)
Sedangkan si istri, ketika dihampiri, dia langsung berdiri.. seolah menunggu sesuatu kemudian duduk lagi sambil nangis tersedu-sedu.. (bete kali ya, berharap suami ngulurin tangan.. tapi malah diem aja)

dan begitulah selanjutnya.. pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dan tarik ulur (pengen dan gengsi) berlangsung. Hingga akhirnya, sebuah pertanyaan terakhir dilontarkan.. “Apakah masih mencintai dia?”
Istri menjawab, “Dulu iyah saya cinta sama dia tp sekarang gatau, dia ga perhatian..”
Suami diam sejenak dan menjawab, “Saya masih mencintaimu..”
Dan pecah sudah si istri menangis haru… Mereka pun kembali tersenyum, bermaafan dan bersama memeluk putri semata wayang mereka..
Padahal hanya karena suami -yang dinilai istri tidak perhatian- berkata “Saya masih mencintaimu..” mereka semua bisa kembali tersenyum bersama.

Saya memang belum menikah, tidak tahu rumitnya membangun sebuah keluarga bagaimana. Tapi, kalau dilihat dari masalah yang dihadapi, mungkin hal di atas sudah pernah saya alami, dengan pacar saya tentunya…

Laki-laki yang sibuk kerja, cuek serta tidak romantis. Apakah tipe pasangan anda sama dengan pacar saya?

Sama seperti kisah suami istri di atas. Untuk kaum hawa, yang namanya perhatian itu dirasa penting. Sekedar bermanis-manis kata sedikit juga sudah cukup, seperti ‘met tidur yah sayang..’ atau sekedar bilang ‘aku sayang kamu’, suda bisa membuat hati berbunga.. ya ga?? hehe..

Tapi, buat laki-laki, hal kaya gitu tidak dirasa penting. Bisa karena lupa akibat sibuk dengan kerjaan, atau bisa jadi karena malu. Di hati sih, bicara.. tapi, ga berani bilang. he, iya gitu? sotoy sayah. :D

Seperti kata penasehat di acara tersebut, penting atau tidaknya sesuatu itu relatif. Menurut istri, mengucapkan selamat ulang tahun itu penting. Sedangkan suami, tidak penting. Jadi, kalau ada sesuatu dan salah paham, komunikasikanlah dengan tenang dan KEPALA DINGIN.. Karena, kalau emosi yang berbicara.. pasti berakhir dengan penyesalan.

Pelajaran (setidaknya buat saya), belajar untuk lebih mengingat hal-hal positif dari pasangan dan mau mengerti kesibukan pasangan kita.
Mudah-mudahan, pacar saya dan semua laki-laki yang sibuk kerja, cuek dan tidak romantis berubah menjadi laki-laki yang lebih manis, setia dan juga perhatian pada pasangannya.

Karena aku masih mencintaimu.. :)

Share to:
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • Live
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • Diigo
  • MySpace
  • blogmarks
  • email
  • FriendFeed
  • RSS
  • Tumblr


Related posts:
  1. Untuk Adjaj
  2. Menjelang 21 April
  3. Anggur diantara peng dan an
Posted in Harian, Hati by oktarianinurul at May 6th, 2009.
Tags:

2 Responses to “Masihkah kau Mencintaiku ?? -perdana”

  1. Arum Kartikaningbudi says:

    nurul,dirimu tak berubah ternyata.lagi serius2,tngah2 cerita aku bs ktawa ngakak..hahahaa..

    haa..tp salut sm acaranya.merekatkan yg retak.hehe..kerenn dan inspiratif.stuju sm pndapatmu ttg laki2.
    dan untuk ke sekian kalinya aku merekomendasi buku “Men are from Mars, Women are from Venus”.niscayyya,hubungan yg goyah akan kembali kuwatt dan kauuwww akan merasa pasanganmu itu msh mencintaimu..

    senasib sepikiran kita ni sih yah..

  2. Arum!! makasi uda mau baca..
    hehehe.. emg km ngakak sebelah mana??

    makasi juga rekomendasinya.. iya tuh! uda pengen baca dari lama. tapi blm beli bukunya.. hahahha :D

Leave a Reply